Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?
Kalimat di atas merupakan satu kalimat yang saya kutip dari Al-Qur’an. Dalam tulisan ini saya tidak akan menyinggung masalah keimanan, karena ilmu saya masih sangat dangkal untuk membicarakan masalah tersebut. Pada kesempatan ini tulisan akan bercerita mengenai ujian atau cobaan yang saya alami, dan saya rasakan sendiri. Semoga bermanfaat…,
Pertama, Saya lahir, dan besar di salah satu Kabupaten di Yogyakarta. Selama 24 tahun saya hidup bersama orangtua dan saudara. Tahun 2009 yang lalu, karena keberuntungan saya diterima menjadi abdi masyarakat dan ditempatkan di sebuah kota pariwisata dunia yaitu di Kuta, Bali. Semenjak saat itu saya terpisah jauh dengan keluarga yang selama ini hidup bersama. Betapa berat beban perasaan yang harus saya rasakan karena harus jauh dari orangtua dan keluarga yang selama 24 tahun hidup bersama saya.
Kedua, Beberapa minggu yang lalu saya harus mencari tempat kost, karena tempat kost yang lama sudah tidak representative lagi seiring status saya yang sudah berkeluarga. Selama hampir satu bulan saya mencari kost baik di sekitaran Denpasar, maupun di sekitaran Kuta, tidak ada yang kosong. Hampir tiap sore saya harus berputar-putar di daerah yang banyak tempat kost-kostan. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, saya belum mendapatkan juga rumah kost yang sesuai dengan keinginan dan budget. Ada temen yang ngasih kabar kost-kostannya ada yang kosong, tetapi ketika saya cek ke ibu kost, ternyata sudah isi.
Yang paling menyakitkan adalah ketika saya menemukan tempat kost yang sesuai secara bentuk dan harganya, tetapi telat beberapa jam sebelumnya. Sangat menyesal, karena selain waktu yang sudah semakin mepet (tinggal 4 hari lagi istri sudah datang), rumah kost tersebut tidak berjarak jauh dari kantor tempat saya bekerja. Meskipun menyesal dan gregeten (bahasa jawa-nya), saya bertekad untuk terus mencari dan yakin saya pasti akan dapat kost sesuai keinginan saya.
Ketiga, saya sudah berstatus sebagai suami. Sebelum resmi menjadi suami istri, saya menjalani hubungan long distance selama 1,5 tahun. Setelah resmi menjadi satu keluarga, karena istri masih harus menyelesaikan studinya, dan saya juga harus melaksanakan kewajiban saya sebagai abdi masyarakat, maka kami harus menjalani kehidupan keluarga ini secara jarak jauh.
———————————-
Dengan jauh dari orang tua, saudara, dan kakak-kakak saya, saya merasa bahwa hidup bersama dengan keluarga adalah berkah yang sangat besar yang sudah saya jalani selama 24 tahun. Berkah ini tidak akan saya syukuri andai saja saya tidak bekerja di Pulau Bali.
Dengan sulitnya mendapatkan kost, saya sangat bersyukur ketika akhirnya saya mendapatkan kost yang sesuai dengan keinginan saya. Ditepi sungai besar dengan pemandangan yang sejuk. Kesyukuran ini tidak akan saya rasakan jika saja saya langsung mendapatkan rumah kost tanpa bersusah payah.
Dengan hubungan long distance yang kami jalani sejak kami berpacaran, sampai akhirnya menikah. Saya sangat bersyukur ketika besok hari sabtu tanggal 29 oktober 2011, istri saya akhirnya menyusul saya ke Bali. Momen ini akan selalu saya ingat, dan yang pasti waktu ketika kami bersama nantinya adalah waktu yang tidak terbuang percuma. Kesyukuran ini tidak akan saya dapatkan ketika sejak awal kami selalu hidup berdekatan.
Dari apa yang saya rasakan, kenikmatan itu muncul karena adanya ketidaknikmatan. Maka dari itu, nikmati saja ketidaknikmatan itu karena itu akan mengantar anda kepada sebuah kenikmatan yang tidak anda bayangkan sebelumnya….
Kuta, Oktober 2011